www.dialektikanews.id || Berdasarkan berbagai studi dan prinsip dasar kehidupan berbangsa di Indonesia, nilai moral (morality value) bagi calon pemimpin nasional Indonesia mutlak berlandaskan pada Pancasila dan etika politik yang tinggi. Pemimpin nasional diharapkan memiliki integritas, keteladanan, dan komitmen terhadap kepentingan publik di atas kepentingan pribadi atau golongan.
Berikut adalah nilai-nilai moral utama bagi calon pemimpin nasional Indonesia:
1. Integritas dan Kejujuran (Moralitas Dasar)
Amanah: Pemimpin harus dipercaya, jujur, rendah hati, dan memahami hakikat tugasnya sebagai pelayan masyarakat (khaadimul ummah).
Antikorupsi: Memiliki komitmen tinggi untuk memberantas korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) serta menolak suap.
Konsistensi: Menjaga konsistensi antara perkataan dan tindakan, serta bertindak sesuai dengan hukum dan etika yang berlaku.
2. Berlandaskan Pancasila (Moralitas Berbangsa)
Moral Ketuhanan: Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dalam kehidupan bernegara.
Moral Kemanusiaan: Mengedepankan martabat manusia, bersikap adil, toleran, dan menghormati hak asasi manusia.
Moral Kebangsaan (Persatuan): Menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, mengutamakan kepentingan nasional di atas kepentingan kelompok.
Moral Demokrasi: Mengedepankan musyawarah mufakat, mendengar aspirasi rakyat, dan bijaksana dalam mengambil keputusan.
Moral Keadilan: Berkomitmen menciptakan keadilan sosial dan pemerataan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.
3. Karakter Kepemimpinan (Moralitas Etika Politik)
Keteladanan: Menjadi teladan moral bagi rakyat dalam sikap, perilaku, dan tutur kata.
Tanggung Jawab (Responsibilitas): Berani menanggung risiko atas kebijakan yang diambil dan proaktif dalam mencari solusi.
Rendah Hati dan Melayani: Mengedepankan jiwa melayani, tidak sombong, dan tidak menyalahgunakan wewenang.
Ketegasan: Tegas dalam menegakkan hukum tanpa pandang bulu dan berani mengambil keputusan sulit demi kebenaran.
4. Orientasi Kebangsaan (Moralitas Publik)
Kepentingan Publik: Mengedepankan kepentingan rakyat banyak daripada kepentingan pribadi, keluarga, atau kelompok.
Persaudaraan: Menjadi pemicu persatuan, bukan perpecahan, serta merawat kebhinekaan.
Pemimpin dengan moralitas tinggi mutlak diperlukan untuk memberantas kebobrokan moral yang merugikan negara dan masyarakat, serta memastikan jalannya pemerintahan yang adil dan bersih.
Hal spt tsb diatas, sangat nyata dan faktual tidak dimiliki oleh Bp. JOKO WIDODO.
Karena mulai dari ijazah persyaratan calon yg mengundang perdebatan dan Jokowi membiarkan Rakyat terpecah belah. Bahkan mendukung para buzzernya mempfitnah orang2 yg tidak sejalan.
Kemudian, beliau tidak takut2 membohongi publik.
Banyak kebohongan Jokowi yg disampaikan kpd masyarakat, dan ini bisa dilacak jejak digitalnya. Spt. Mobil esemka sudah dipesan bbrp ribu unit.
Uang dikantongnya 11.000 triuliun, tidak impor beras, gula dll. Tidak ekspor batubara dan bahan baku lainnya.
Dan banyak lagi kebohongan Jokowi yg disampaikan kpd masyarakat.
Sehingga, sulit bagi saya (penulis) utk mempercayai makhluk yg bernama JOKO WIDODO.
Marga Mulya unit 15 Trans Batumarta, kec. Sinar Peninjauan OKU.
Sabtu, 17 Januari 2026, 13:16 WIB.
REIHAL IKMAL HAMID.
